ada di ruang, udara, dan suara

Posts tagged ‘nocturnich’

consulaire handelingen

Bernyanyi
di Kedutaan Besar Belanda

bapak berkumis
setengah ubanan
anda sangat baik hati

mbak berbaju hitam kacamata minus
paspornya aku pinjam hingga hari Selasa ya?
anda diundang di 22 November

doa Novena
restu Ibu
ucapan Bunda Maria
semuanya seluruh
keajaiban di dunia kecil kita

NLD

NLD

Advertisements

late-noon coffee

third week of May 2009

.

.

divinity

and

the world

.

.

in every crossroad to Jerusalem

the two were marching toward the holy one

.

.

a paradox of live and love

phrased as inter-faith cohabitation

“To have and to hold, from this day forward, for better for worse, for richer for poorer, in sickness and in health, to love and to cherish, till death do us part.”

crux

crux

.

.

minted in the invitation cards.

gulali, aku lali

Limaribu angkur

Tentang konspirasi pohon jambu, danau hujan, dan villa menawan di balik kaca jendela.

.

.

.

.

Sayur palemnya cuma ada dua,

Ditegakkan baik-baik supaya dia tumbuh segera besar.

Lepas dari itu semua,

400 ribu rupiah bukanlah jumlah yang kecil di tahun 2009 bagi seorang janda.

Dengan itu dia bisa membiayai rumah tangga yang berisikan dua anak pengangguran

dan penumpang yang tak kenyang-kenyangnya merokok di atap beranda.

.

.

.

.

Baru kemarin dia menawarkan televisi tabung dengan harga yang sama,

Lalu setelah terbeli oleh pembantu sebelah,

Laparnya malahan bertambah,

Sehingga diganasinya sang penumpang hingga mengetik panjang-panjang.

“Ah, besok akan kulunasi tagihan itu”

.

.

.

.

Selewat tupai menggelinding, dia tagih pula kartu tanda mengenal melalui bini sebelah.

Semakin mencurigakan.

Karena sebagai orang baru, ternyata ada sebuah fakta pembukaan tanpa permisi.

Kenapa tidak diselipkan saja pesan itu ke bawah pintu?

Malahan digelontorkan setelah sebelumnya masuk tanpa permisi.

.

.

.

.

Si Nyonya memang ambisius,

Ternyata si dia kurang pandai bergaul.

Rencana sekolah di Philipina nyatanya adalah hasil peruntungan semata.

“Ah, ternyata si aku ingin juga menikah lalu pergi jauh ke empat musim”

.

.

.

.

Di realita,

Si Nyonya rapuh dan lucu sekaligus.

Tak ada bedanya dia dan si Nyonya.

.

.

.

.

Sama-sama

jadi apa adanya pada waktunya.

Mereka butuh uang ketika butuh uang.

Tunda-tunda saja semuanya sampai banjir tahunan datang.

.

.

.

.

huh

Tag Cloud

%d bloggers like this: