ada di ruang, udara, dan suara

Archive for the ‘jamur paling rahasia’ Category

One Lunch Break

Remorse and Fear in a quiet environment
The silent moment
Add some substances and you shall be in tranquil zone
Questioning sanity
Researching existence

Everything is opaque in the crowd
Unlike the silent moment
A lunch break for construction workers
A red light for taxi drivers
The city ceased to breathe

Soon, they will come back alive
Killing the silent moment
But I wish that this will last forever

Advertisements

Sajak Tanpa Komputer dan Internet

I

Digitalia #1

Sejenak lepas kami berbincang
tentang
kaum naturalis dan para anti kemapanan
lainnya

Sejenak lepas
para monster kembali datang menyelusup
dan nafsu elektrikku menguasai

II

Digitalia #2

Dulu kita bergantian membaca buku
menatap layar bioskop yang sama
kini kita berkutat dalam laptop masing-masing

Malamnya
selinting ganja lalu bercinta

Kita terbebaskan

III

Digitalia #3

Bosan dengan iPod
aku beralih pada iGod

IV

Digitalia #4

Kau jual piringan hitam
pada tuhan
demi sekotak kecil
pemutar musik elektrik

V

Digitalia #5

Malam ini aku bercinta
dengan kertas dan pena
ada yang merdeka
ada pula yang terpenjara

bisingku pekik pedih di akhir
ini Era Digitalia!

VI

Sisipan

Bagaimana kau tahu bahwa kalimat ini di atas kertas tidak kurang maupun lebih dari seratus empat puluh karakter panjangnya tanpa jari, sempoa, atau kalkulator?

provo

DSC_6900

secangkir kopi,

lalu kita mulai bercerita

DSC_6948

segelas anggur,

dan kita bercinta

cerita 6.30

mereka,
yang menyelusup lewat embun dan udara panas.



Reri,
yang dikejar-kejar di bawah kolong tol,
tertidur di bilik triplek



telanjang

Kamu lelah ya sayang?
Kakak tinggalkan handuk di atas kasur
Ini tubuh Kakak untukmu

Menikah dengan seorang sarjana,
iya! menikah dengan orang yang berpendidikan tinggi
dan bergengsi!
Walau kamu angkuh karena terlalu tampan.



Aku akan mencapai cita-cita tertinggi
di abad ini.
Donatur akan menyatukan dua tropi
pria dan wanita.

Maujud

tidur

perbatasan adalah antara
hidup dan mati
bahagia dan tidak bahagia
selamat dan semoga

gambar lopian
aku tidak akan mengintipmu lagi

sesaat aku lupa akan bayangmu
apakah kamu yang menyelamatkan saat hipotermia?

rambutmu jelaga
pipimu ari-ari
dahimu satu

telingamu widyastuti
”aku mu”

matamu dada
bibirmu hati
lidahmu jantung

matamu cinta
bibirmu cinta
lidahmu cinta

pandu solilokui

malam malam malam aku
menyentuhmu

lekuk demi lekuk susuri malam
selasa dua bola
matamu yang besar menggigit
tekanan episode baris berbaris
larik hitam hijau kencana

lekuk demi lekuk demi lekuk susuri pagi
selasa serang sang dewi utari nagagini
batik parang rusak kuda sembrani
ode sepinggan emas untuk solilokui
damai di bumi damai di surga
kematian kelahiran yang berulang
peraduan abadi

hari ini pertukaran mesin waktu yang tersesat terlambat
mengejar kepak kupu-kupu di Samudera Pasifik
yang mengguncangkan langkah-langkah
langkah kepala berbenturan bertukaran
adigunamu adidayaku
rajendra
devanata

yang terlewat

Breathing In Comma

I am afraid of unveiled Man on the Moon

or the arduous fictional outbreak of  H1N1

.

Luna

and China

.

Rolling grass in Mongolia,

breathing in comma.

Poppies field of Afghanistan,

breathing in comma.

.

Breathing in comma

Tag Cloud

%d bloggers like this: