ada di ruang, udara, dan suara

Archive for the ‘bingkai tumbuh’ Category

Setelah Kau Terlelap

Setiap malam aku bersandar
di bahumu

Diam-diam
Kuperhatikan

Detak jantungmu
Bersama naik turun buah dadamu
Denyut nadimu
Bersama lipatan-lipatan kecil lehermu
Irama hidupmu

Bila suatu waktu nanti
Semua itu berhenti
Aku akan siap jadi sendiri

Dan akan selalu
Kehilanganmu

Advertisements

Bapakku Tukang Kayu

Cemburu itu kesaksian
Menyaksikan tukang kayu lain memilih mesin bubut daripada gergaji

Rindu itu pengharapan
Mengharapkan wangi serbuk jati tercium lagi di bengkel kerja

Selingkuh itu perbuatan
Membuat tempat tidur lebar 2 meter agar orang ketiga muat di atasnya

Setia itu ketetapan
Menetapkan profesi tukang kayu sebagai gantungan hidup utama, tanpa kecuali

Katanya “Desain tanpa seni akan mati”
Kataku “Begitu juga suami tanpa istri”

sembunyi – setelah sekian waktu dalam sunyi

masih
dalam selimut kamu bersembunyi

kangen yang lebih dingin dari pendingin
ruangan
merah muda bibirmu
lelah lama tak mencari

bau keringatmu
lipatan lehermu
kulit paling tersembunyi

pelan-pelan saja peluknya
kita makin renta
dimakan usia
dilahap satu tahun tanpa lembar-lembar kertas berharga

kelak kekal dalam surga

Semarang, Malam 1 Syawal

sejarah masa depan

kepada waktu,
aku luangkan sejenak untukmu.

baru saja tersadar,
bahwa selama ini saya hanya berputar di kota kelahiran, Jakarta.
2 tahun 1 bulan 13 hari
belum lengkap.

secuil yang telah terlewatkan, dan, mungkin, akan dirindukan
langit tua di samping kebun pisang,
debu kolong tol,
dan tentu saja,
macetnya Sudirman.

satu persatu digantikan oleh tunas muda, aula pernikahan, dan aspal segar

meskipun demikian,
sebelum pulang,
saya ingin diingatkan,
tentang menulis sejarah masa depan.

bersamamu

dan lalu
pulang.

I am longing to be …

forced silence

menyala

DSC_6901

mau jadi apa anak-anak semesta?

besok selalu jadi hari yang biasa
berkemas untuk Senin yang malas

hiduplah
hari ini

corengkan gincu di bibirmu tebal-tebal
uraikan rambutmu tanpa teratur

DSC_7096

malam ini kita jadi peri
yang tertinggi
dan bercahaya
denganmu

20 tahun lagi

kelak,

20 tahun dari sekarang

wajah-wajah yang kita kenal adalah para penguasa dan kepala

intelektual organik, politisi, dan hegemoni

akankah kita bersebrangan dan saling bertentangan?

DSC_6821

menara-menaramu, bila tidak cukup menjulang tinggi,

akan kubakar sempurna

pilihan kedua dari satu opsi tersisa

Tag Cloud

%d bloggers like this: