ada di ruang, udara, dan suara

Tuesday Morning

Come on over,
lover,
my monster.

I wish you a calm day of winter solstice
and a gentle soothing summer breeze.

Advertisements

Sepasang Tuna Netra

Januari masih sedingin Desember di kota ini. Sepasang tuna netra berjalan beriringan. Laki-laki pertama menggenggam tangan sahabatnya dan menuntunnya ke dalam kedai makan. Sang pelayan lalu merangkul bahu mereka dan membantunya duduk di bangku terdepan, tepat di belakang meja kasir. Meski penampilannya biasa-biasa saja, mereka diperlakukan seperti tamu kelas satu.

Mereka kemudian memesan semangkuk nasi goreng ayam. Sembari menunggu makanan datang, mereka berbicara tanpa perlu saling menatap. Tema pembicaraan mereka adalah para selebriti Bollywood, “Katrina, Salman, Imran,” kata laki-laki kedua.

Laki-laki pertama masih bisa melihat walau amat lamat-lamat. Pembicaraan singkat mereka terhenti saat telepon genggamnya berdering. Dia mendekatkan matanya dua sentimeter dari layar dan membacakan isi pesan singkat pada laki-laki kedua yang buta total. “Radio kesayanganku sudah laku terjual,” kata laki-laki pertama. Mereka berdua lalu tersenyum lebar. Senyum yang lebih manis dan tulus daripada orang-orang normal.

***

Seperti biasanya, kita bergenggaman tangan di sepanjang jalan pulang. Tapi, kali ini, aku ingin menggenggam tanganmu lebih erat daripada biasanya. Aku ingin menyampaikan terima kasih untuk tangan yang tak lelah menggenggam tanganku di saat terang maupun gelap.

One Lunch Break

Remorse and Fear in a quiet environment
The silent moment
Add some substances and you shall be in tranquil zone
Questioning sanity
Researching existence

Everything is opaque in the crowd
Unlike the silent moment
A lunch break for construction workers
A red light for taxi drivers
The city ceased to breathe

Soon, they will come back alive
Killing the silent moment
But I wish that this will last forever

Tengah

I

Suara kipas menderu. Aku butuh putarannya untuk mengusir nyamuk, juga mengarahkan nikotin kabur lewat lubang angin.

Harum tembakau, lembab mengisi ruangan. Dinding kamar penuh bercak. Jamur. Serbuk kayu berserakan. Rayap.

Sebagian besar waktu yang aku habiskan dalam kamar dipenuhi pertanyaan. Tentang ketidakpastian masa depan. Diam atau bergerak tiada beda. Sebab aku masih tersesat di kamar yang sama. Dengan penuh kerelaan, aku biarkan jiwaku uzur. Berjamur dan dimakan rayap. Seperti kamar ini.

Saat suara adzan terdengar, aku beranjak ke kasur. Lalu tidur. Dan pengalaman hidup sesungguhnya dimulai.

II

Dua Januari
Aku terhisap arus mimpi
Malam sepi
“Yang kutahu malam itu kita saling jatuh cinta, diam-diam dan tanpa berisik.”*

III

Suatu pagi, kamu datang tanpa bentuk, tanpa isyarat, tanpa kecuali.
Saat kubuka mata pertama kali
yang kulihat adalah dindingmu, penyiar hati. Sendirian. Kesepian. Tanpa kecuali.

Suatu malam, kamu pulang membawa bentuk, isyarat, dan kecuali.
Saat kututup mata terakhir kali
yang kulihat adalah langit-langitmu, payung hati. Satu jiwa dalam dua tubuh yang perlahan mati.

IV

Pernah kamu bawa boneka yang kau jahit sendiri. Benangnya biru tua. Kainnya perca kasar. Bertuliskan kenang-kenangan
perasaan

Perasaan yang menerbangkan koper sihir. Peramu. Pembaca mantra. Penyihir.

“Sayang, ini hati bukan imitasi. Jaga baik-baik agar tak retak di tengah jalan.”

Kamu selipkan boneka itu dalam tumpukan baju. Ketika aku temukan, dia masih utuh. Rupanya sempurna. Aku cium dia sambil mengkhayalkan keningmu, pipimu, bibirmu, matamu, seluruhmu.

Lalu hening.

V

Apakah kamu rindu kunang-kunang? Kabut kota kita sudah punah bersama kunang-kunang. Kota yang membesarkan kita, kota yang (kosong) kita.

“Mahal kita,” begitu kata para Ate dan Kuya.
Begitu juga aku padamu.

*penggalan sajak Sabiq Calesbeth (2011)

Dalam hati tak terukur
(kosong) tertusuk sangkur

Haus dan dingin
Dehidrasi dan hipotermia

Kamu dalam peti
Terperangkap mati

Cerita bilik kecil laki-laki perempuan
Akan segera dimulai

Anggur/Beras Kencur

Sumpah Pemuja panggil anak Menteng dengan Yang Mulia
padahal dulu Paduka Yang Mulia dulu cuma milik tuan bandara

segelas anggur & beras kencur diangkat tinggi
“Demi kebaikan dua negeri”

ribuan sosok penuh abu datang membawa kambing dan sapi
lalu dilepaskan di ruang makan istana negara
anggur dan beras kencur milik Yang Mulia
berceceran di permadani merah

I

Digitalia #1

Sejenak lepas kami berbincang
tentang
kaum naturalis dan para anti kemapanan
lainnya

Sejenak lepas
para monster kembali datang menyelusup
dan nafsu elektrikku menguasai

II

Digitalia #2

Dulu kita bergantian membaca buku
menatap layar bioskop yang sama
kini kita berkutat dalam laptop masing-masing

Malamnya
selinting ganja lalu bercinta

Kita terbebaskan

III

Digitalia #3

Bosan dengan iPod
aku beralih pada iGod

IV

Digitalia #4

Kau jual piringan hitam
pada tuhan
demi sekotak kecil
pemutar musik elektrik

V

Digitalia #5

Malam ini aku bercinta
dengan kertas dan pena
ada yang merdeka
ada pula yang terpenjara

bisingku pekik pedih di akhir
ini Era Digitalia!

VI

Sisipan

Bagaimana kau tahu bahwa kalimat ini di atas kertas tidak kurang maupun lebih dari seratus empat puluh karakter panjangnya tanpa jari, sempoa, atau kalkulator?

Tag Cloud