ada di ruang, udara, dan suara

Archive for the ‘bingkai tumbuh’ Category

Setelah Kau Terlelap

Setiap malam aku bersandar di bahumu Diam-diam Kuperhatikan Detak jantungmu Bersama naik turun buah dadamu Denyut nadimu Bersama lipatan-lipatan kecil lehermu Irama hidupmu Bila suatu waktu nanti Semua itu berhenti Aku akan siap jadi sendiri Dan akan selalu Kehilanganmu

Bapakku Tukang Kayu

Cemburu itu kesaksian Menyaksikan tukang kayu lain memilih mesin bubut daripada gergaji Rindu itu pengharapan Mengharapkan wangi serbuk jati tercium lagi di bengkel kerja Selingkuh itu perbuatan Membuat tempat tidur lebar 2 meter agar orang ketiga muat di atasnya Setia itu ketetapan Menetapkan profesi tukang kayu sebagai gantungan hidup utama, tanpa kecuali Katanya “Desain tanpa [...]

sembunyi – setelah sekian waktu dalam sunyi

masih dalam selimut kamu bersembunyi kangen yang lebih dingin dari pendingin ruangan merah muda bibirmu lelah lama tak mencari bau keringatmu lipatan lehermu kulit paling tersembunyi pelan-pelan saja peluknya kita makin renta dimakan usia dilahap satu tahun tanpa lembar-lembar kertas berharga kelak kekal dalam surga Semarang, Malam 1 Syawal

sejarah masa depan

kepada waktu, aku luangkan sejenak untukmu. baru saja tersadar, bahwa selama ini saya hanya berputar di kota kelahiran, Jakarta. 2 tahun 1 bulan 13 hari belum lengkap. secuil yang telah terlewatkan, dan, mungkin, akan dirindukan langit tua di samping kebun pisang, debu kolong tol, dan tentu saja, macetnya Sudirman. satu persatu digantikan oleh tunas muda, [...]

I am longing to be … forced silence

menyala

mau jadi apa anak-anak semesta? besok selalu jadi hari yang biasa berkemas untuk Senin yang malas hiduplah hari ini corengkan gincu di bibirmu tebal-tebal uraikan rambutmu tanpa teratur malam ini kita jadi peri yang tertinggi dan bercahaya denganmu

20 tahun lagi

kelak, 20 tahun dari sekarang wajah-wajah yang kita kenal adalah para penguasa dan kepala intelektual organik, politisi, dan hegemoni akankah kita bersebrangan dan saling bertentangan? menara-menaramu, bila tidak cukup menjulang tinggi, akan kubakar sempurna pilihan kedua dari satu opsi tersisa

Rotterdam

tentang kota-kota yang tidak pernah sempurna berperang menentukan siapa yang lebih unggul menentukan norma koeksistensi reruntuhan abu pun disepuhkan abrakadabra jadi arsitektur terbaru di sini aku tidak bergerak diam lembam Rotterdam

a alguien

Pero cuando me duerma quiero a alguien que me acune en sus brasoz y me bese.. tiernamente (martin gore, subtitulado)

apa kabar?

“baik“ dibenci

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.