ada di ruang, udara, dan suara

Sepasang Tuna Netra

Januari masih sedingin Desember di kota ini. Sepasang tuna netra berjalan beriringan. Laki-laki pertama menggenggam tangan sahabatnya dan menuntunnya ke dalam kedai makan. Sang pelayan lalu merangkul bahu mereka dan membantunya duduk di bangku terdepan, tepat di belakang meja kasir. Meski penampilannya biasa-biasa saja, mereka diperlakukan seperti tamu kelas satu.

Mereka kemudian memesan semangkuk nasi goreng ayam. Sembari menunggu makanan datang, mereka berbicara tanpa perlu saling menatap. Tema pembicaraan mereka adalah para selebriti Bollywood, “Katrina, Salman, Imran,” kata laki-laki kedua.

Laki-laki pertama masih bisa melihat walau amat lamat-lamat. Pembicaraan singkat mereka terhenti saat telepon genggamnya berdering. Dia mendekatkan matanya dua sentimeter dari layar dan membacakan isi pesan singkat pada laki-laki kedua yang buta total. “Radio kesayanganku sudah laku terjual,” kata laki-laki pertama. Mereka berdua lalu tersenyum lebar. Senyum yang lebih manis dan tulus daripada orang-orang normal.

***

Seperti biasanya, kita bergenggaman tangan di sepanjang jalan pulang. Tapi, kali ini, aku ingin menggenggam tanganmu lebih erat daripada biasanya. Aku ingin menyampaikan terima kasih untuk tangan yang tak lelah menggenggam tanganku di saat terang maupun gelap.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.